Perusahaan Kontroversial dibalik Token USDT

Tether

Mosi tidak percaya pada USDT banyak di utarakan oleh sebagian besar komunitas cryptocurrency penunggu forum Bitcointalk.org baru-baru ini. Hal ini disebabkan karena stablecoin yang satu ini dianggap berbahaya oleh orang-orang setempat. Kebijakan perusahaan yang main hakim sendiri terhadap penggunanya membuat semua orang mulai waspada dan melakukan protes besar terhadap tindakan pembekuan akun yang di lakukan oleh Tether selaku pengendali supply Token USDT.

USDT merupakan token stabil yang harganya akan selalu sama dengan harga dolar Amerika dengan perbandingan 1 :1. Token dengan fluktuasi harga yang rendah sangat dibutuhkan oleh komunitas trading dalam melakukan pengamanan aset mereka ketika terjadi crash pada market. Tidak peduli harga Bitcoin naik ataupun turun harga USDT akan tetap selalu sama dengan USD. USDT 100% dibackup oleh mata uang tradisional atau mata uang fiat yang merupakan aset nyata untuk membuktikan token ini benar-benar berharga. Selain itu Asep yang membackup USDT selalu bertambah dengan adanya bisnis peminjaman yang dibuat oleh perusahaan Tether.

Tether selalu memberikan laporan harian mengenai kondisi aset yang mereka pegang pada website resminya. .

Mengenal Tether

Rancangan Whitepaper Tether pertama kali adalah pada Januari 2012 oleh JR Willet yang menjelaskan bahwa dirinya akan membangun mata uang baru diatas protokol milik Bitcoin. Pada awal pendiriannya di Santa Monica, Theter ingin memberi nama token barunya tersebut dengans sebutan “Realcoin”.

Token pertama yang dirilis adalah pada tanggal 6 Oktober 2014 pada blockchain milik Bitcoin dan menggunakan Omni Layer Protocol. Barulah pada tanggal 20 November 2014, CEO Tether, yaitu Reeve Collins merubah nama project ini yang semula adalah Realcoin , sekarang menjadi Tether hingga saat ini.

Baca juga : Cara Menjadi Manajer Bounty ICO dan IEO Bitcointalk

Saat ini USDT berdiri pada beberapa jaringan blockchain terkenal, seperti Ethereum, Omni dan Tron. Dengan mengadopsi multi blockchain, maka transaksi USDT akan bisa dilakukan dengan normal apabila terjadi kendala pada salah satu jaringan blockchain terkait.

Dengan harga yang selalu sama dengan USD, Tether ingin membuka sebuah peluang kepada para pebisnis untuk bisa melakukan transaksi tanpa perlu rasa takut terjadinya fluktuasi harga yang cepat. Dengan begitu, semua orang akan mulai bisa merasakan penggunaan teknologi Blockchain untuk keperluan sehari hari mereka.

Kontroversi

Hadir dengan peminat yang sangat banyak dari seluruh penjuru dunia, membuat bisnis yang dibangun ini terancam mendapatkan cap buruk dari semua komunitas crypto.

Drama dalam dunia crypto, terutama USDT pernah terjadi beberapa kali. Yang pertama adalah mencuatnya berita yang di tulis oleh Frances Coppola di Forbes, bahwa Tether selaku perusahaan yang mengeluarkan token USDT mengatakan bahwa Tether tidak 100% di backup oleh USD. Hal ini tentu saja membuat semua orang berasumsi bahwa USDT tidak lagi kredibel.

Kemudian pada April 2019, Bitfinex diketahui telah menggunakan dana cadangan yang ada di Tether untuk menutupi dana yang hilang sejak tahun 2018. Hal ini tentu saja menyalahi peraturan penggunaan aset, bahwasanya dilarang perusahaan melakukan bisnis di dalam bisnis untuk mencari keuntungan pribadi.

Lalu Bloomberg juga membuat postingan berita yang mana isinya menjelaskan bahwa adanya tindakan kriminal bahwa Tether mencoba melakukan manipulasi harga Bitcoin. Kemudian jaksa federal AS menyelidiki kasus ini lebih dalam lagi untuk menemukan jawaban atas tuduhan tersebut.


Walaupun banyak masalah, tetapi USDT tetap dianggap sebagai koin spesial, dimana banyak orang yang masih percaya terhadap keberadaan Tether. Hingga pada tahun 2019 , volume perdagangan Tether mampu melampaui Bitcoin.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.